Pemuda Desa Sukses
Sunday, October 30, 2016
"Gimana keadaannya, Toke?"
"Yaa, seperti inilah! Keadaan sedang kurang sehat. Mau ke kebun, tapi tidak sanggup berlama-lama di sana."
"Saat ini, di pasar lebih mahal cabe atau kakao?"
"Sekarang kesehatan jauh lebih mahal."
"Anda luar biasa, Toke. Pemuda kaya pemecah rekor muri di Desa kita, luar biasa."
"Mana ada! Saya cuma kerja mengkayakan orang lain. Tolong, do'akan saja supaya saya bisa cepat kaya."
"Tetapi, bisik para tetanga Anda tetap pemuda terkaya di Gampong kita."
"Hehe. Do'akan saja, semoga! Aamien."
"Nanti waktu Toke sudah kaya, pasti lupa sama orang yang mendo'akan Anda, betul kan?"
"Enggak."
"Toke pernah lihat berapa banyak orang-orang kaya yang lupa akan sanak-saudara, tetangga dan teman-temannya?"
"Pernah."
"Jadi, sebelum saya mendo'akan supaya Toke kaya. Tolong Toke berikan saya satu do'a, agar kelak Anda tidak seperti kebanyakan orang-orang kaya."
"Hehe."
"Kira-kira kenapa orang-orang kaya sampai lupa kepada orang yang pernah mendo'akannya?"
"Owh, itu karena mereka sudah asyik dengan dunianya."
"Haruskah saya mendo'akan Anda supaya kaya? Bukankah do'a ini sangat tidak manusiawi?"
"Hehe."
"Tapi, Anda pemuda hebat yang sedang ada di Kampung kita. Dengan umur yang masih muda sudah punya usaha, semua serba sendiri dan mandiri. Dengan kegigihan Anda dipuja-puji sampai ke warung-warung kopi tetangga, hayeu that, hana ubat. Semoga, suatu saat Anda kaya ijo tanpa meninggalkan mereka."