Filosofi ; Laki-laki dan Poko Mantega (Bak Ceungklek)
Sunday, October 30, 2016
Awalnya biasa saja. Ketika sering lalu-lalang menempuhi jalan itu, pikirku mulai nakal. Ternyata filosofi laki-laki sedikit sama dengan pokok mentega (bak ceungklek) di kampung saya.
Berbatang lurus tegak, dengan kulit lapisan luar berwarna hitam atau kehitaman. Laki-laki berotot kekar, berkulit hitam legam.
Daun-daun berbentuk lonjong, bertepi rata, dengan pangkal membundar dan ujung meruncing. Sisi atas daun hijau tua, mengkilap, seperti kulit; sisi bawah berbulu halus, keperakan. Daun muda hijau muda sampai merah jambu. bertangakai. Laki-laki alay.
Manusia memiliki postur dan anggota tubuh beraneka ragam. Namun, memiliki satu kesamaan, yaitu 'hati'. Fitrah hati identik dengan kelembutan.
Dengan kelembutan hati manusia bisa bersatu. Bahkan mampu menjinakkan binatang-binatang buas serta mendamaikan berbagai sengatan peperangan. Itulah titik kesamaan manusia, 'lembut' hatinya.
Dengan kelembutan hati manusia bisa bersatu. Bahkan mampu menjinakkan binatang-binatang buas serta mendamaikan berbagai sengatan peperangan. Itulah titik kesamaan manusia, 'lembut' hatinya.
Begitu pula keadaan pokok mentega. Bagaimanapun bentuk batang, daun dan rantingnya, ia memiliki buah berbentuk hati, dan dagingnya sangat lezat waktu dimakan.
Kriteria lelaki pemberani, gagah, kekar, maco, perkasa siapapun dia akan tunduk melayu kalau hatinya berhasil dijamah.
Tidak sedikit cerita-cerita tersurat dalam kisah kehidupan para tokoh-tokoh dunia. Baik ia pemuka agama ataupun bukan, rerata mamainkan ritme hati dengan baik. Hati raja dijaga dan dirawat lembut oleh permasurinya. Padahal ia sangat gagah dan kesatria di depan milyaran pasukan dan rakyat-rakyatnya.
Ngomong-ngomong! Hati lelaki matang juga sama persis dengan buah mentega yang matang. Ia dibungkus dengan kulit yang keras, tapi dalamnya lembut enak dikunyah.