Kopi yang Dirindukan (tanpa sianida)
Friday, January 29, 2016
Rindu hadir antara
kegelapan
Rindu pergi tanpa menunggu malam
Ia juga bertahta di sela-sela cinta yang terjaga
Rindu itu bak selaksa angin
Silih berganti datang dan pergi
Rindu itu bak lorong waktu
Ia bertahan menembus titik ruang mata angin
Pekat hitam warnamu
Pahit manis rasamu
Hasrat dan rasa kian bersatu
Mereka sedang merindukanmu
Merindukan kehangatanmu
Melukis langit bersamamu
Kopi
Engkau tidaklah pernah berubah
Tampil mu dengan performa elegan
Diteriknya metari kau titipkan mereka semerbak inspirasi
Dikeheningan malam menumpang matanya hingga tegak berdiri
Kopi
Hembusan angin menambah pilunya kalbu
Suatu waktu kau merajut senja dikeheningan
Terkadang kau membuih asa dikehidupan
Sekarang mereka sedang tak mampu melupakanmu
Apalagi harus menepikanmu, mereka tak mampu
Kopi
Kini mereka mendatangiku
Memintaku mendendangkan lantunan rindu
Rindu yang tak berujung, tak bertepi juga berlari
Rindu pergi tanpa menunggu malam
Ia juga bertahta di sela-sela cinta yang terjaga
Rindu itu bak selaksa angin
Silih berganti datang dan pergi
Rindu itu bak lorong waktu
Ia bertahan menembus titik ruang mata angin
Pekat hitam warnamu
Pahit manis rasamu
Hasrat dan rasa kian bersatu
Mereka sedang merindukanmu
Merindukan kehangatanmu
Melukis langit bersamamu
Kopi
Engkau tidaklah pernah berubah
Tampil mu dengan performa elegan
Diteriknya metari kau titipkan mereka semerbak inspirasi
Dikeheningan malam menumpang matanya hingga tegak berdiri
Kopi
Hembusan angin menambah pilunya kalbu
Suatu waktu kau merajut senja dikeheningan
Terkadang kau membuih asa dikehidupan
Sekarang mereka sedang tak mampu melupakanmu
Apalagi harus menepikanmu, mereka tak mampu
Kopi
Kini mereka mendatangiku
Memintaku mendendangkan lantunan rindu
Rindu yang tak berujung, tak bertepi juga berlari
Pernahkah
kau tau!
Senja mereka memintaku bernyanyi
Senja mereka memintaku bernyanyi
Hingga
pekat malam berganti
Mereka
masih tetap disini
Hanya
demi kopi dan sepucuk rindu
.
| Kopi dan Filosofi Kerinduannya |