Cina Melihat Indonesia
Wednesday, May 23, 2012
Add Comment
Pengantar Redaksi
PADA bulan November 2003 bekerja sama dengan Harian Kompas , ahli tentang Cina , I Wibowo (51), berkesempatan berkunjung di Akademi Ilmu-Ilmu Sosial di Beijing. Kepala Pusat Studi Cina di Jakarta itu memperoleh gelar sarjana sastra (Cina) dari Universitas Indonesia (1983) dan gelar doktor dari School of Oriental and African Studies, University of London (1996) di bidang ilmu politik dengan referensi khusus politik Cina.
***
"APA pandangan Cina tentang Indonesia?" Pertanyaan ini sangat menggelitik banyak orang. Banyak orang Indonesia pergi ke Daratan Cina. Ada yang datang untuk berdagang, ada untuk belajar. Akhir-akhir ini banyak anggota DPR kita ke sana untuk "studi banding". Pendek kata, arus orang Indonesia ke Daratan Cina terus menunjukkan angka menanjak. Akan tetapi, tahukah mereka apa yang dipikirkan oleh orang Cina tentang Indonesia? Apa yang ada dalam hati mereka?
DI banyak negara, kehadiran orang Indonesia lebih dikaitkan dengan kesukaan orang Indonesia belanja. Tanyakan saja kepada penjaga toko di Singapura. "Orang Indonesia itu kaya raya, senang belanja!" Atau, tanya kepada mahasiswa di Amerika Serikat, terutama di wilayah pesisir Barat. "Mahasiswa Indonesia kaya raya, ke kampus naik mobil Porsche." Terutama sebelum diterpa krisis keuangan, Indonesia dipandang sebagai sebuah negara yang tidak miskin.
Di Cina sangat mungkin belum ada citra semacam itu karena turis Indonesia yang ke sana belum menjadi sebuah fenomena. Meski demikian, Pemerintah Cina dan rakyatnya pasti punya pandangan tertentu terhadap Indonesia. Pandangan itu tidak hanya dibangun lewat turis, para pelaku bisnis atau diplomatnya, tetapi pandangan yang diperoleh lewat berbagai saluran lain. Apa pandangan Cina tentang Indonesia?
Lebih-lebih kalau hal ini dikaitkan dengan peristiwa jatuhnya Orde Baru yang sedemikian anti-Cina. Apakah setelah tahun 1998 itu ada perubahan pandangan terhadap Indonesia? Dengan munculnya pemerintahan yang lebih bersahabat, apakah Cina kini memandang Indonesia secara lebih positif?
Data menunjukkan bahwa terjadi pergeseran pandangan itu. Mulai dengan kunjungan pejabat tinggi negara. Begitu Gus Dur terpilih menjadi presiden, negara pertama yang dikunjunginya adalah Cina. Bahkan, Gus Dur mengungkapkan niatnya untuk membentuk aliansi segi tiga antara Indonesia, Cina, dan India. Ketika Megawati jadi presiden, menggantikan Gus Dur, ia juga menyempatkan diri ke Cina pada awal masa pemerintahannya. Sebaliknya, Indonesia dikunjungi oleh Perdana Menteri (PM) Li Peng, dan kemudian juga oleh Wakil Presiden (waktu itu) Hu Jintao. Anggota DPR maupun menteri-menteri juga mengadakan kunjungan ke Cina untuk berbagai macam urusan.
Data statistik untuk volume perdagangan antara Indonesia dan Cina juga menunjukkan angka meningkat, bahkan meningkat pesat. Begitu pula nilai investasi Indonesia ke Cina, maupun Cina ke Indonesia, memperlihatkan grafik menaik. Angka-angka kunjungan wisata demikian pula. Memang lebih banyak orang Indonesia ke Cina, meski demikian angka kunjungan orang Cina ke Indonesia juga bertambah banyak.
Data di atas memperlihatkan tanda-tanda pandangan yang makin positif. Kendati demikian, sebuah "persepsi" lebih luas daripada tindakan maupun ucapan. Tidak jarang apa yang dilakukan tidak sejajar dengan apa yang dipersepsikan. Dalam bahasa sehari-hari, bukankah kita sering dengar, "Ah, dia itu hanya basa-basi!" Lebih buruk lagi, "Dia berbuat baik karena ada maunya!" Artinya, orang itu punya persepsi yang tidak baik, tetapi demi tujuan yang hendak dicapai, ia melakukan tindakan-tindakan baik. Atau, apa yang dipikirkan tidak selalu sama dengan apa yang diperlihatkan dalam tindakan.
Itu sebabnya banyak dilakukan penelitian tentang "persepsi" orang atau negara lain terhadap diri kita. Dengan mengetahui persepsi pihak lain, kita dapat dengan tepat menanggapinya. Bukankah banyak pertikaian dan pertengkaran berasal dari persepsi yang keliru tentang pihak lain? Ini sudah lama diketahui oleh para ahli psikologi maupun ahli komunikasi. Hal yang sama juga berlaku untuk hubungan antara dua bangsa.
STUDI-studi tentang topik ini dilakukan oleh banyak sarjana. Dari sudut Cina, terkenal studi yang dilakukan oleh John K Fairbank yang muncul dalam bentuk buku berjudul The Chinese World Order (1968). Barangkali ini merupakan buku sistematis pertama yang ditulis oleh orang Barat mengenai persepsi Cina terhadap bangsa dan negara di luarnya. Salah satu tesis yang paling kontroversial di sini adalah bahwa Cina memandang bangsa di luar sebagai "bangsa barbar" (yiti). Kalau toh Cina ingin menjalin hubungan dengan bangsa di luar Cina, itu bukan karena didasarkan atas kepentingan tetapi atas dasar "kemurahan hati" Kaisar Cina.
Mengingat perkembangan hubungan antarbangsa yang lebih kompleks, generasi yang lebih muda menerbitkan sebuah koleksi artikel yang juga membahas persepsi Cina tentang dunia. Buku yang berjudul In the Eyes of the Dragon (1999) adalah salah satu contohnya. Editor dan pengarang artikel dalam buku ini semuanya adalah sarjana berkebangsaan Cina yang mengalami pendidikan ilmu sosial di Barat. Tidak ada benang merah yang muncul dari buku ini, tetapi sangat menarik bagaimana persepsi Cina itu tidak lagi satu atau tunggal seperti yang dikatakan oleh Fairbank dan teman-temannya.
Ada dua buku menonjol yang mempersoalkan persepsi Cina terhadap dunia Barat pada umumnya. Yang pertama adalah suntingan Thomas HC Lee berjudul China and Europe: Images and Influences in Sixteenth to Eigteenth Centuries (1991). Yang kedua adalah buku dari Collin Mackerras, Western Images of China (1989). Cina dan Eropa sudah lama berinteraksi, sejak zaman "Jalan Sutra" ketika kekaisaran Han di Cina menjalin perdagangan sutra dengan kekaisaran Roma di Eropa.
Abad ke-16 sering dilihat sebagai titik penting, yaitu ketika misionaris Yesuit asal Italia, Matteo Ricci, diterima oleh Kaisar di istananya di Beijing. Sebaliknya, berita-berita yang dikirim oleh misionaris Yesuit ke Eropa juga sampai ke tangan para aristokrat dan intelektual yang amat kesengsem dengan peradaban Cina. Maka, terjadilah hubungan dan terjadilah juga persepsi.
Pandangan Cina tentang Amerika? Pasti ada. Dan, ini dibuat oleh seorang sarjana Amerika, David Shambaugh, yang menulis buku berjudul Beautiful Imperialist (1991). Dalam buku ini disuguhkan uraian bahwa sebagai sebuah bangsa yang sedemikian "tergila-gila" dengan Amerika, ternyata Cina juga tidak lagi terikat pada "pandangan tradisional" dari masa kekaisaran. Pandangan Cina tentang Amerika sesudah Perang Dunia II dikuasai oleh pandangan yang berhaluan Marxist. Itu sebabnya Amerika dipandang sebagai "imperialis" dalam kurun 1972-1990.
Buku Shambaugh ini melengkapi buku lain dengan tema yang sama yang disunting oleh R David Arkush dan Leo O Lee. Judulnya Land Without Ghosts: Chinese Imperssions of America from the Mid-Nineteenth Century to the Present (1989). Sekali lagi, orang menyadari bahwa apa yang dipikirkan oleh orang Cina tentang negara lain sudah mengalami perubahan. Peristiwa-peristiwa maupun pemikiran yang sedang hangat pada waktu itu ikut membentuk persepsi.
Studi tentang persepsi selama sepuluh tahun terakhir ini memang berkembang pesat dan makin canggih. Misalnya, studi dari Richard Madsen, China and the American Dream (1995). Di situ diperlihatkan tentang Amerika secara tidak sadar telah memproyeksikan mimpi-mimpinya sendiri terhadap Cina. Cina adalah negara baik, kalau Cina sudah menjadi seperti negara yang liberal seperti Amerika. Itu sebabnya Amerika suka mengecam dan mengkritik Cina. Amerika diam-diam telah memakai standar moralnya menilai teman pergaulannya.
Akan tetapi, studi satu arah ini mulai dikoreksi oleh studi-studi yang mencoba membandingkan persepsi dari pihak Cina dan persepsi dari pihak lain. Persepsi atau citra tidak dibangun oleh satu pihak di dalam ruang hampa. Studi dari Wang Jianwei adalah yang terbaru yang mencoba melihat bagaimana Cina dan Amerika "saling" melihat. Judul bukunya adalah Limited Adversaries. Post-Cold War Sino-American Mutual Images (2000). Studi dari Wang Jianwei menggeledah mutual images ini, bukan hanya persepsi dari Cina saja atau dari Amerika saja. Yang dipersepsikan oleh Cina dibandingkan dengan apa yang dipersepsikan oleh Amerika, dan dari situ dapat ditarik kesimpulan untuk menjelaskan salah paham antara dua negara besar itu.
Lambat-laun disadari bahwa persepsi itu hasil dari interaksi dua arah, tidak mungkin satu arah. Memang ada unsur internal dari bangsa itu, umpamanya filsafat atau ideologi yang dianut. Namun, unsur eksternal yang ditimbulkan oleh bangsa lain juga memainkan peran. Ini biasa terjadi juga dalam pergaulan manusia sehari-hari. "Saya selalu baik, kok dia tidak baik sih?" Maka terjadilah pergeseran dalam studi tentang persepsi. Orang yang mula-mula punya persepsi positif tentang sahabatnya, lambat-laun punya persepsi negatif karena sang sahabat memperlihatkan perilaku yang tidak menyenangkannya.
Yang menarik dari studi-studi ini adalah bahwa apa yang mula-mula ada dalam lingkungan wilayah "hubungan antarbangsa", kini telah ke luar dari wilayah itu. Memang persepsi tetap memainkan peran penting dalam studi tentang hubungan antara dua negara, tetapi persepsi atau citra menjadi kajian yang lebih luas dan kaya yang bisa dimanfaatkan juga oleh "orang biasa". Semakin banyak orang memahami persepsi "pihak sana", semakin terbantu upaya mengurangi ketegangan. Apalagi kalau juga "pihak sini" menyadari persepsinya terhadap "pihak sana".
Sayangnya, studi serupa di Indonesia belum berkembang. Tentang Indonesia melihat Cina sudah ada banyak pandangan, tetapi itu bukan pokok pembahasan kali ini. Orang Indonesia boleh jadi masih banyak menduga-duga, bukan atas dasar penelitian, tentang apa yang dipikirkan oleh bangsa Cina terhadap dirinya. Misalnya, kerap dikutip pendapat dari John Fairbank bahwa Cina memandang negara-negara di sekitarnya sebagai negara-negara vasal. Begitu kerapnya pendapat ini dikutip sehingga menimbulkan kesan bahwa itulah satu-satunya persepsi Cina tentang Indonesia. Padahal, oleh Fairbank sendiri dikatakan pendapat itu diperlakukan sebagai "pandangan tradisional" ketika Cina masih dikuasai oleh filsafat Konfusianisme.
PERSEPSI atau citra tidaklah statis, tidak berubah sepanjang zaman. Sulit membayangkan ada persepsi yang abadi. Akibat perbenturan dengan lingkungan, atau akibat perubahan zaman, persepsi dapat berubah. Mungkin benar bahwa Cina pernah punya persepsi diri sebagai "negara tengah" yang menuntut ketertundukan dari negara-negara di sekitarnya, bahkan juga yang jauh. Sejauh mana persepsi ini masih bertahan hingga hari ini? Mengingat fenomena globalisasi yang ada sekarang, amat janggal jika Cina tetap memiliki persepsi diri sebagai "negara tengah" seperti pada zaman Dinasti Han 2.000 tahun yang lampau.
Bicara tentang persepsi sebuah negara, orang biasanya mudah meloncat mengaitkannya dengan pandangan para elite negara (presiden, raja, perdana menteri, dan sebagainya). Seperti telah disinggung di atas, persepsi atau citra juga tidak tunggal. Apa yang dipikirkan oleh elite pengambil kebijakan tentu berbeda dari yang dipikirkan oleh rakyat jelata. Elite punya pertimbangan maupun ukuran yang bagi orang biasa terasa tidak relevan. Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok: elite negara, intelektual, dan orang biasa. Ketiganya memiliki persepsi yang berbeda. Elite negara, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, mengembangkan sebuah pandangan tentang negara atau bangsa lain yang mereka hadapi.
Kelompok intelektual adalah kelompok orang yang memakai teori-teori untuk memahami negara lain. Yang disebut "teori" di sini erat berkaitan dengan agama, atau filsafat atau ideologi. Berbeda dari elite negara yang sehari-hari harus mengambil keputusan praktis, persepsi yang dibangun oleh kelompok intelektual dirumuskan dalam bentuk tulisan. Persepsi elite negara tampak dalam keputusan dan kebijakan, persepsi kelompok intelektual tampak dalam tulisan, seperti buku, artikel, dan tentu saja media cetak. Yang dilakukan oleh David Shambaugh adalah meneliti apa yang dirumuskan oleh kelompok intelektual yang tergabung dalam aneka gudang pemikiran di Cina.
Rakyat jelata atau "orang biasa" juga punya persepsi sendiri. Berbeda dari elite negara atau intelektual, mereka tidak mengambil keputusan maupun membuat tulisan. Persepsi mereka tersimpan dalam hati, dan muncul dalam aneka macam bentuk yang tak pasti, juga tidak sistematis. Mungkin sekali mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kuesioner, tapi jawaban itu tersebar-sebar. Mungkin sekali mereka mengungkapkan persepsi mereka dalam demonstrasi atau protes. Kalau mau memakai indikator yang agak pasti, itulah arus turis, kelompok orang yang semata-mata didorong oleh citra. Pandangan positif atau negatif tercermin dari deras-tidaknya arus turis.
Karena sebuah bangsa ada dalam hubungan atau kaitan dengan bangsa lain, persepsi atau citra tidak mungkin dibangun sendiri, melainkan oleh kedua belah pihak. "Pihak sana" dan "pihak sini" berinteraksi dan dari interaksi itu dilahirkan sebuah persepsi. Kalau Cina 2.000 tahun yang lampau berani mengklaim dirinya sebagai "negara tengah" dan suku-suku di sekitarnya dikatakan "barbar" lalu negara-negara tetangga diwajibkan mengirim upeti, hal itu sangat mungkin terkait dengan fakta bahwa Cina waktu itu memang telah memiliki peradaban yang tinggi.
Suku atau negara lain yang kecil-kecil juga menyadari diri. Kesadaran Cina sebagai "negara tengah" itu dihancurkan pada saat mereka kalah total oleh tentara Inggris dalam Perang Candu (1840). Inggris "menyebabkan" Cina mengubah persepsi dirinya dan sekaligus juga persepsi terhadap dunia luar.
Persepsi itu tidak statis, tidak utuh, dan ditumbuhkan lewat sebuah interaksi yang bersifat resiprokal. Dengan demikian, sebenarnya sulit menjawab pertanyaan: Apa sih yang dipikirkan oleh pihak Cina tentang Indonesia? Untuk menjawab ini masih perlu ditanya lagi: Cina dari masa kapan, kelompok mana dalam Cina, dan dalam rangka interaksi dengan siapa.
Karena kita hidup tahun 2003, persepsi Cina terhadap Indonesia pada tahun ini dan beberapa tahun yang mendahului pasti berbeda, terutama setelah Soeharto lengser.
Yang akan diperhatikan adalah persepsi elite negara dan kelompok intelektual. Jelas, bahwa persepsi Cina yang dipersoalkan di sini adalah sejauh Cina berinteraksi denganIndonesia. (*)
http://www.annida-online.com

0 Response to "Cina Melihat Indonesia"
Post a Comment